Photobucket

24/11/11

Mengajarkan Anak Sensitif Berbagi



Anak balita tak mau berbagi ? Itu wajar. Apalagi anak batita. Setelah merasa lebih ‘merdeka’ daripada bayi, ia tengah belajar bahwa ia adalah individu yang terpisah dari orang dewasa, bahwa ia memiliki keinginan dan ‘aku’ berdiri sendiri.


Saya sering mendengar sebagian orangtua berkata semacam ini pada saya “Abah, bagaimana dengan anak saya (3 tahun) kalau ada yang main ke rumah dia bilang nggak boleh suruh pulang aja mbak/mas nya. Begitu dengan pas lebaran kemarin ke tempat neneknya, ada anak lain yang main nggak boleh juga. Terus masalah makanan dan minuman, bunda dan ayahnya juga nggak boleh minta, apalagi orang lain, saya bingung ngasih taunya bagaimana?”

Anak ini sebenarnya baru pada tahap belajar bahwa barang itu milik aku. Mengajarkan berbagi adalah kewajiban orangtua. Tetapi, sebelum mengajarkan berbagi, orangtua juga harus mengajarkan tentang konsep kepemilikan.

Jika barang itu miliki orang lain, maka secara konsisten orangtua harus mengajarkan bahwa dia tidak boleh mengambil barang orang lain tanpa izin apalagi memaksa untuk meminjam atau mengambil barang orang lain. Demikian juga jika ada anak lain memaksa untuk mengambil anak kita, kita katakan pada anak lain “kamu boleh pinjam, tapi minta izin dulu ya”. Dan apapun yang terjadi dengan anak tadi: nangis, teriak. Kita harus secara konsisten (tegas) menerapkan hal ini terlebih dahulu sebelu mengajarkan berbagi pada anak.

Demikian juga dengan barang saudaranya, adik atau kakaknya. Jika kelak dia punya saudara dan masing-masing anak punya barang miliki sendiri seperti mainan, makanan atau lain-lain. Ajarkan anak kita untuk tidak mengambil barang sudaranya tanpa izin. Tidak mengambil mainan atau makanan saudaranya tanpa izin. 

Dan saat abah menerapkannya pada keempat anak saya, alhamdulillah, biidznillah, meski disimpan di tempat meja makan atau di freezer, jika ada makanan yang bukan miliknya, tidak ada satupun anak berani mengambil tanpa meminta izin si pemilik barang.  Si kakak tidak berani mengambil barang atau mainan yang dimiliki adiknya tanpa izin dan si adik pun tidak berani mengambil barang kakaknya tanpa izin. Jika ini diterapkan di rumah kita secara konsisten, dampaknya akan baik untuk anak di masa depan. Barang saudaranya saja dia tidak berani ambil, apalagi barang orang lain bukan?

Mengajarkan konsep kepemilikian berarti juga kita, orangtua harus secara konsisten tidak boleh memaksa anak memberikan barang yang dia miliki untuk di-share atau dibagi pada orang lain.

Akan tetapi, orangtua juga harus menyeimbangkannya dengan mengajarkan berbagi.  Mengajarkan berbagi setelah mengajarkan konsep kepemilikan adalah wajib.  Jika mengajarkan konsep kepemilikan tanpa disertai dengan mengajarkan berbagi maka anak ini akan menjadi anak-anak yang egois, anak-anak yang seenaknya, anak-anak yang tidak sensitif terhadap situasi sekitarnya.

Bagaimana cara mengajarkan berbagi.
Ada tiga tahap untuk mengajarkannya: CERITAKAN, LIBATKAN DAN BERIKAN DORONGAN.  

Pertama adalah tahap BERCERITA. Maksudnya ceritakan tentang apa itu BERBAGI? Bercerita dengan maksud kita mengenalkan konsep berbagi dan apa itu berbagi. Cara yang paling mudah adalah dengan sering menceritakan sebuah buku atau cerita/dongeng/kisah  yang mengajarkan anak berbagi. Sehingga anak tahu bahwa berbagi itu lebih disukai. Cerita tentang Rasulullah yang sering menyuapi pengemis tua di pasar padahal pengemis itu sering memaki-maki Rasulullah adalah salah satu cerita ‘wajib’ yang bisa diceritakan kepada anak.

Bercerita untuk mengajarkan berbagi tidak berarti harus terus melalui buku, mengajak anak ke tempat-tempat dengan kondisi lingkungan ekonomi terbatas seperti daerah pemulung, gang-gang kecil, tempat yatim piatu, juga adalah cara baik untuk melatih sensitifitas anak.

Atau saat orangtua  bersama anak di lampu merah melihat seorang anak kecil mengamen atau mengemis, kita bisa menjadikannya sebagai bahan BERCERITA. “Kamu tahu, kenapa dia melakukan itu? “ Dan seterusnya ini bisa menjadi bahan renungan anak. Bukan berarti setelah itu anak harus berbagi kepada anak-anak di lampu merah tadi.  Berbagi bisa dilakukan di tempat selain itu, di tempat yang lebih produktif untuk berbagi atau yang lebih baik untuk berbagi.

Menceritakan berbagi berarti juga memprogram pikiran anak untuk tahu tentang berbagi. Anak-anak batita pada awalnya belum bisa mengetahui tentang nilai baik dan buruk karena itu tugas kita orangtualah yang mengenalkan apa itu baik dan buruk. Nilai-nilai itu bisa kita tanamkan melalui bercerita tadi salah satunya. 

Tahap kedua adalah tahap LIBATKAN. Maksudnya,t idak sekadar memberikan contoh kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari bahwa kita juga sering berbagi, tetapi lebih dari itu saat kita melakukan aktivitas charity tersebut, libatkan anak untuk melakukannya pula.

 Misalnya saat anak melakukan apa yang diajarkan suunnah Rasulullah tentang memberi hadiah pada tetangga libatkan anak dalam menentukan hadiah apa yang bisa diberikan untuk tetangga tersebut. Kebiasaan ini bisa dilakuan sepekan sekali, dua sepekan sekali, tiga pekan sekali atau sebulan sekali menyesuaikan besaran budget yang kita sediakan. 

Di keluarga kami, sesekali berbagi dengan tetangga itu biasanya berbentuk kue, buah-buahan atau makanan yang praktis bisa langsung di santap, bisa buat sendiri bisa juga dengan  membeli.  Mohon maaf jangan berfokus tentang bahwa saya sudah pameran berbagi, bukan, tolong jangan kesitu, tapi fokuslah pada maksud saya yang ingin sekadar menampilkan contoh metode melibatkan anak dalam berbagi.

“Pekan ini kita akan berbagi hadiah dengan Pak Didin, pekan depan dengan keluarga Pak Agus, pekan ketiga dengan Pak wawan dan pekan keempat dengan keluarga Pak Nanang.  Menurut kalian, untuk keluarga Pak Didin diberikan hadiah apa ya? Kalau untuk lainnya apa?”

Setelah anak-anak memberikan usulan, salah satu usulah anak itu bisa direalisasikan sepanjang rasional. Dan kemudian usulan dari satu anak dipakai bergantian. Pekan ini misalnya usulan dari anak yang pertama yang akan dipakai, pekan kedua dari anak kedua dst. Jika anaknya hanya ada dua ya bergantian seterusnya. Jika ada anaknya masih satu ya bergantian dengan orangtuanya.

Setiap anak yang diterima usulannya boleh dipercaya juga untuk diberikan kewenangan memberikan hadiah tersebut pada tetangga. Prinsip “man usul, huwa mas’ul”, barangsiapa yang mengusulkan maka dia yang berwenang, boleh-boleh saja diterapkan di sini. Asal anak dibuat senang untuk melakukannya.  Dan Sepanjang pengalaman kami melakukan ini, insya Allah anak-anak sangat senang dilibatkan dalam kegiatan berbagi ini. Malah, mereka berebutan untuk menjadi yang berwenang memberikan hadiah tersebut. Apalagi dalam keluarga yang dibagi tersebut ada  ‘komplotan’ anak kita yang sebaya.

Tahap  ketiga adalah tahap DORONGAN.  Berikan semacam penolakan (bukan paksaan) saat anak bermain bersama tapi anak tak mau berbagi. Contoh, ayah punya kue lalu anak minta. Kemudian ayah berkata "ayah tak mau berbagi sama adik, ayah mau baginya sama kakak dan mama, soalnya adik kemarin tak mau berbagi".  

Biarkan sesekali anak merasa kecewa dan menangis diperlakukan seperti itu karena anak akan belajar bahwa oh ternyata perbuatan seperti itu tidak disenangi dan insya Allah jika orangtua terus melakukannya lagi dan lagi maka anak belajar bahwa seharusnya aku pun tidak seperti itu. Dan berikan contoh ini terus menerus insya Allah anak akan tau bahwa berbagi itu lebih disukai. Tidak langsung membuat anak jadi bisa berbagi, tetapi semakin sering dilakukan anak semakin tahu bahwa berbagi itu lebih disukai. (www.auladi.org )


0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More